Minggu, 26 Oktober 2008

FIRST DAY IN HOLY MONTH

Hari ini, hari pertama puasa. Tadi malem, di masjid uda diadain tarawih berjamaah. Tadi pagi, (shubuh maksudnya) aku juga ke masjid untuk sholat shubuh berjamaah. Jamaahnya (seperti biasa kalo awal2 puasa) banyak banget. Disana aku lihat orang2 yang ga pernah ke mesjid tiba2 datang berbondong-bondong menyesaki mesjid yang sudah selesai direnovasi ini. Semangat Ramadhan hari pertama rupanya. Tadi malem waktu tarawih juga sama, shafnya penuh sampai ke halaman mesjid.
Aku telat datang, adzan shubuh sudah berkumandang dari tadi, sedangkan iqomah aku tak mendengarnya. Di perjalanan, dari toa mesjid aku mendengar imam sedang membaca surat Al-fatihah. Aku langsung mengenali imam itu walaupun hanya dengan mendengar suaranya, itu suara Pak Slamet. Rumahnya memang hanya beberapa jengkal dari mesjid, dan ia selalu menjadi imam dan penceramah pertama pada setiap tarawih dan sholat shubuh berjamaah di hari pertama Ramadhan. Sampailah aku di mesjid, shaf terakhirlah yang masih terlihat kosong, aku segera sholat karena sudah terlambat.
Shalat selesai, awalnya aku ingin segera pulang untuk merubuhkan badan dan karena aku malas mendengarkan ceramah. Tapi kulihat sekeliling, tak ada satupun jamaah yang berdiri bahkan merubah posisi duduknya. Niat untuk pulang aku urungkan. Kemudian Pak Slamet naik mimbar. Aku memasang muka malas. Aku merubah posisi dudukku, mendirikan kakiku dan menaruh kepalaku di lututku. Kudengar sayup-sayup, pak Slamet berbicara panjang lebar kesana kemari, ia memang penceramah yang tak membutuhkan teks ataupun kertas kecil berisi catatan kalo sedang berceramah. Mungkin karena keseringannya dia jadi penceramah ato mungkin emang uda bakat jadi pubic speaker sejak orok. Terus terang aja, aku bosan setiap kali aku ke mesjid untuk sholat maghrib ato sholat jumat selalu saja dia yang jadi imam dan selalu dia yang kasi ceramah. Apalagi surat yang ia bacakan setiap jadi imam selalu sama, surat yang kalimat terakhirnya berbunyi ". . muusaa" Itu terus yang selalu ia bacakan. Ga shubuh, dhuhur, ashar, maghrib, isya, sholat jumat, bahkan sholat ied surat itu yang kudengar. Belakangan, setelah aku keluhkan pada ayahku, ternyata surat tersebut (Al A’la) emang diajurkan oleh Rasulllah untuk dibacakan pada sholat2 yang penting.
Tapi aku sedikit tersentak, mendengar Pak Slamet tiba2 memberikan hadist Rosul yang mengatakan bahwa beda orang mukmin sungguhan dengan orang munafik adalah waktu shalat jamaah shubuh dan Isya’, shalat jamaah di masjid ato tidakkah dia. Dia jelas mengkritik bapak2, ibu2, muda-mudi yang hadir di masjid ini, terutama mereka yang ikut shalat berjamaah shubuh dan isya hanya saat ramadhan saja. Termasuk aku. Mati gue. .aku munafik dong?? Aku betulkan posisi dudukku ,setelah itu aku serius mendengarkan ceramahnya. Ia kemudian menghimbau dengan sedikit mengancam, "kalo bapak2, ibu2 dan adik2 tidak mau disebut orang munafik, ikutlah sholat shubuh dan isya berjamaah di mesjid!". Semula aku kesal, dia bicara gitu karena rumahnya deket dari mesjid. Mungkin kalo diadain lomba cepet2.an nyampe masjid antara aku dan Pak Slamet, aku pasti tetap kalah walaupun aku lari sekencang-kencangnya sedangkan ia hanya jalan sambil ngesot. Aku berdalih, aku ga bisa sholat isya di mesjid karena 4 hari dalam seminggu aku harus les dari jam setengah tuju nyampe jam delapan. 3 hari lainnya?? Hari Rabu? Aku sibuk ngerjain Pe.ER yang numpuk kalo ga ya maen komputer (sama aja boong dong), hari Sabtu ma minggu? Aku harus. . .harus apa ya? Ok aku yang salah.
Bahkan awalnya, sebenernya aku ingin sholat shubuh di rumah, padahal adek dan pembantuku sudah siap dengan rukuhnya untuk berangkat ke mesjid. Aku?? Masi tidur2.an gara2 kekenyangan makan sahur. Tapi di saat aku sedang santai, hapeku bunyi, ayahku nelpon. Aku suda nebak kalo aku bakal disuruh ke mesjid buat sholat shubuh jamaah. Benar saja. .
Babe : Mas uda sahur?? Lauknya apa?? Tar ke mesjid ya, pahalanya kan banyak kalo ramadhan2 gini!
Aku : ya ya ya. .
Mama nyaut telpon, gantian omong.
Mama : Lagi apa?? Sholat shubuh di mesjid lo!
Aku : ya ya ya. .
Mama : ya apa? Ya sholat di mesjid ato mo tidur lagi!?
Sepertinya mamaku tau kalo aku mo tidur lagi. .hebat juga dia, pa masi sodaraan ma Ki Joko Bodo yak??
Aku : ya iya dong ah, masa ya iyalah ah. .
Mama : ya iya dong apa? Apa? Eh apa bedanya kucing Persia ma kucing anggora??
Aku : ga tau. .apa bedanya obat batuk ma kondom?
(uda ngaco. .maap2)
Padahal sewaktu mama ma babeku nelpon nyuruh ke mesjid, adzan sudah berhenti berkumandang beberapa menit yang lalu. Mungkin karena di Jakarta belom adzan ato malah belom imsya’. Alhasil aku terlambat ke mesjid.
Wabilahitaufik walhidayah Wassalammu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. . Pak Slamet menutup ceramahnya, aku buru-buru pulang, mata uda ngantuk, kepala berkunang-kunang. Di perjalanan, dari belakang aku dengar suara langkah kaki, tap. .tap. .tap. .tap. ."ayo anak2 samakan nadanya!", ternyata anak2 TK lagi latihan drumband. Nggak2 serius. Langkah kaki yang terdengar bertempo cepat dengan ketukan ¾ itu adalah milik Pak Harto, guru lukisku waktu di TK. Pak Harto memang orang yang taat beribadah, ia selalu sholat berjamah di masjid. Setiap berangkat dan pulang dari masjid ia selalu berlari-lari kecil, jelas di usia senjanya ia masih suka berolahraga. Aku menyapanya, dia tersenyum, aku menyalaminya dengan kedua tanganku, aku cium tangannya. Ia sudah kuanggap seperti kakekku, idolaku. Aku sangat respect kepadanya. Ia hanya hidup berdua dengan istrinya di rumah, sebenarnya ia punya anak laki-laki yang sudah matang, namun ia sudah meninggal karena kecelakaan. Raut wajahnya masih menyenangkan. Diam-diam aku memiliki metode bagaimana caranya menilai orang itu benar-benar baik ato tidak dengan hanya melihat raut wajahnya. Pak Harto termasuk orang baik itu.

Pak Harto membuka pembicaraan, ia masih saja berlari-lari kecil. Walaupun begitu aku tetap bisa menyamakan langkah, karena jalanku memang cepat.
Pak Harto : Uda kelas 3 ya??
Aku : iya pak. .
Aku sedikit kaget mengetahui bahwa pak Harto tau kalo aku kelas 3, meskipun kita jarang sekali ngobrol. Padahal Pakde bude.ku aja sering masih ngira aku masih kelas 6 sd kalo lagi telpon.
Pak Harto : Wa. .mo ujian berarti ya!
Aku : eeiya pak. .masi di Syuhada?? (Red: TK.ku)
Pak Harto : Iya. .awet! malah sekarang ngajar anak smp.nya juga. .(ia tersenyum)
Aku : Ooo. .(aku ikut2.an senyum biar kompak)
Aku da sampai di depan rumah.
Pak Harto : Ta’ doain lulus ujian ma sukses ya. .!
Aku : Amin. .makasi. .duluan nggih!
Pak Harto : Yayaya. .tak lari2 dulu bentar!
Diam-diam aku berjanji dalam hati, aku akan berhenti bermalas-malasan agar aku dapat mewujudkan doanya. Dan aku ga akan malas2 untuk sholat shubuh di mesjid. Setidaknya di bulan puasa ini. It’s the beautiful day In the Holy Month!

[delay posting]

Tidak ada komentar: